Sabtu, 31 Oktober 2009

ETIKA BERTETANGGA

Menghormati tetangga dan berprilaku baik terhadap mereka. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, sebagaimana di dalam hadits Abu Hurairah Radhiallaahu anhu : “....Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia memu-liakan tetangganya”. Dan di dalam riwayat lain disebutkan: “hendaklah ia berprilaku baik terhadap tetangganya”. (Muttafaq’alaih).

Bangunan yang kita bangun jangan mengganggu tetangga kita, tidak membuat mereka tertutup dari sinar mata hari atau udara, dan kita tidak boleh melampaui batasnya, apakah merusak atau mengubah miliknya, karena hal tersebut menyakiti perasaannya.

Hendaknya Kita memelihara hak-haknya di saat mereka tidak di rumah. Kita jaga harta dan kehormatan mereka dari tangan-tangan orang jahil; dan hendaknya kita ulurkan tangan bantuan dan pertolongan kepada mereka yang membutuhkan, serta memalingkan mata kita dari wanita mereka dan merahasiakan aib mereka.

Tidak melakukan suatu kegaduhan yang mengganggu mereka, seperti suara radio atau TV, atau mengganggu mereka dengan melempari halaman mereka dengan kotoran, atau menutup jalan bagi mereka. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda: “Demi Allah, tidak beriman; demi Allah, tidak beriman; demi Allah, tidak beriman! Nabi ditanya: Siapa, wahai Rasulullah? Nabi menjawab: “Adalah orang yang tetangganya tidak merasa tentram karena perbuatan-nya”. (Muttafaq’alaih).

Jangan kikir untuk memberikan nasihat dan saran kepada mereka, dan seharusnya kita ajak mereka berbuat yang ma`ruf dan mencegah yang munkar dengan bijaksana (hikmah) dan nasihat baik tanpa maksud menjatuhkan atau menjelek-jelekkan mereka.

Hendaknya kita selalu memberikan makanan kepada tetangga kita. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda kepada Abu Dzarr: “Wahai Abu Dzarr, apabila kamu memasak sayur (daging kuah), maka perbanyaklah airnya dan berilah tetanggamu”. (HR. Muslim).

Hendaknya kita turut bersuka cita di dalam kebahagiaan mereka dan berduka cita di dalam duka mereka; kita jenguk bila ia sakit, kita tanyakan apabila ia tidak ada, bersikap baik bila menjumpainya; dan hendaknya kita undang untuk datang ke rumah. Hal-hal seperti itu mudah membuat hati mereka jinak dan sayang kepada kita.

Hendaknya kita tidak mencari-cari kesalahan/kekeliruan mereka dan jangan pula bahagia bila mereka keliru, bahkan seharusnya kita tidak memandang kekeliruan dan kealpaan mereka.

Hendaknya kita sabar atas prilaku kurang baik mereka terhadap kita. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Ada tiga kelompok manusia yang dicintai Allah.... –Disebutkan di antaranya- :Seseorang yang mempunyai tetangga, ia selalu disakiti (diganggu) oleh tetangganya, namun ia sabar atas gangguannya itu hingga keduanya dipisah oleh kematian atau keberangkatannya”. (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani).

[Taken From Kitab "Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari" By : Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan]

ETIKA BERKOMUNIKASI LEWAT TELEPON

Ceklah dengan baik nomor telepon yang akan anda hubungi sebelum anda menelpon agar anda tidak mengganggu orang yang sedang tidur atau mengganggu orang yang sedang sakit atau merisaukan orang lain.

Pilihlah waktu yang tepat untuk berhubungan via telepon, karena manusia mempunyai kesibukan dan keperluan, dan mereka juga mempunyai waktu tidur dan istirahat, waktu makan dan bekerja.

Jangan memperpanjang pembicaraan tanpa alasan, karena khawatir orang yang sedang dihubungi itu sedang mempunyai pekerjaan penting atau mempunyai janji dengan orang lain.

hendaknya wanita tidak memperindah suara di saat ber-bicara (via telpon) dan tidak berbicara melantur dengan laki-laki. Allah berfirman yang artinya: “Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik”. (Al-Ahzab: 32).

Maka hendaknya wanita berhati-hati, jangan berbicara diluar kebiasaan dan tidak melantur berbicara dengan lawan jenisnya via telepon, apa lagi memperpanjang pembicaraan, memperindah suara, memperlembut dan lain sebagainya.

Hendaknya penelpon memulai pembicaraannya dengan ucapan Assalamu`alaikum, karena dia adalah orang yang datang, maka dari itu ia harus memulai pembicaraannya dengan salam dan juga menutupnya dengan salam.

Tidak memakai telpon orang lain kecuali seizin pemilik-nya, dan itupun bila terpaksa.

Tidak merekam pembicaraan lawan bicara kecuali seizin darinya, apapun bentuk pembicaraannya. Karena hal tersebut merupakan tindakan pengkhianatan dan mengungkap rahasia orang lain, dan inilah tipu muslihat. Dan apabila rekaman itu kamu sebarluaskan maka itu berarti lebih fatal lagi dan merupakan penodaan terhadap amanah. Dan termasuk di dalam hal ini juga adalah merekam pembicaraan orang lain dan apa yang terjadi di antara mereka. Maka, ini haram hukumnya, tidak boleh dikerjakan!

Tidak menggunakan telepon untuk keperluan yang negatif, karena telepon pada hakikatnya adalah nikmat dari Allah yang Dia berikan kepada kita untuk kita gunakan demi memenuhi keperluan kita. Maka tidak selayaknya jika kita menjadikannya sebagai bencana, menggunakannya untuk mencari-cari kejelekan dan kesalahan orang lain dan mencemari kehormatan mereka, dan menyeret kaum wanita ke jurang kenistaan. Ini haram hukumnya, dan pelakunya layak dihukum.

[Taken From Kitab "Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari" By : Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan]

ETIKA MEMBACA AL-QUR'AN

Sebaiknya orang yang membaca Al-Qur'an dalam keadaan sudah berwudhu, suci pakaiannya, badannya dan tempatnya serta telah bergosok gigi.

Hendaknya memilih tempat yang tenang dan waktunya pun pas, karena hal tersebut lebih dapat konsentrasi dan jiwa lebih tenang.

Hendaknya memulai tilawah dengan ta`awwudz, kemu-dian basmalah pada setiap awal surah selain selain surah At-Taubah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman yang artinya: "Apabila kamu akan mem-baca al-Qur'an, maka memohon perlindungan-lah kamu kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk". (An-Nahl: 98).

Hendaknya selalu memperhatikan hukum-hukum tajwid dan membunyikan huruf sesuai dengan makhrajnya serta membacanya dengan tartil (perlahan-lahan). Allah berfirman yang Subhanahu wa Ta'ala artinya: "Dan Bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan". (Al-Muzzammil: 4).

Disunnatkan memanjangkan bacaan dan memperindah suara di saat membacanya. Anas bin Malik Radhiallaahu anhu pernah ditanya: Bagaimana bacaan Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam (terhadap Al-Qur'an? Anas menjawab: "Bacaannya panjang (mad), kemudian Nabi membaca "Bismillahirrahmanirrahim" sambil memanjangkan Bismillahi, dan memanjangkan bacaan ar-rahmani dan memanjangkan bacaan ar-rahim". (HR. Al-Bukhari). Dan Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam juga bersabda: "Hiasilah suara kalian dengan Al-Qur'an". (HR. Abu Daud, dan dishahih-kan oleh Al-Albani).

Hendaknya membaca sambil merenungkan dan menghayati makna yang terkandung pada ayat-ayat yang dibaca, berinteraksi dengannya, sambil memohon surga kepada Allah bila terbaca ayat-ayat surga, dan berlindung kepada Allah dari neraka bila terbaca ayat-ayat neraka. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman yang artinya: "Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran." (Shad: 29). Dan di dalam hadits Hudzaifah ia menuturkan: "......Apabila Nabi terbaca ayat yang mengandung makna bertasbih (kepada Allah) beliau bertasbih, dan apabila terbaca ayat yang mengandung do`a, maka beliau berdo`a, dan apabila terbaca ayat yang bermakna meminta perlindungan (kepada Allah) beliau memohon perlindungan". (HR. Muslim). Allah berfirman yang artinya:

Hendaknya mendengarkan bacaan Al-Qur'an dengan baik dan diam, tidak berbicara. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman yang artinya: "Dan apabila Al-Qur'an dibacakan, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu men-dapat rahmat". (Al-A`raf: 204).

Hendaklah selalu menjaga al-Qur'an dan tekun membacanya dan mempelajarinya (bertadarus) hingga tidak lupa. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: "Peliharalah Al-Qur'an baik-baik, karena demi Tuhan yang diriku berada di tangan-Nya, ia benar-benar lebih liar (mudah lepas) dari pada unta yang terikat di tali kendalinya". (HR. Al-Bukhari).

Hendaknya tidak menyentuh Al-Qur'an kecuali dalam keadaan suci. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman yang artinya: "Tidak akan menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan". (Al-Waqi`ah: 79).

Boleh bagi wanita haid dan nifas membaca al-Qur'an dengan tidak menyentuh mushafnya menurut salah satu pendapat ulama yang lebih kuat, karena tidak ada hadits shahih dari Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam yang melarang hal tersebut.

Disunnatkan menyaringkan bacaan Al-Qur'an selagi tidak ada unsur yang negatif, seperti riya atau yang serupa dengannya, atau dapat mengganggu orang yang sedang shalat, atau orang lain yang juga membaca Al-Qur'an.

Termasuk sunnah adalah berhenti membaca bila sudah ngantuk, karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: "?pabila salah seorang kamu bangun di malam hari, lalu lisannya merasa sulit untuk membaca Al-Qur'an hingga tidak menyadari apa yang ia baca, maka hendaknya ia berbaring (tidur)". (HR. Muslim).

[Taken From Kitab "Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari" By : Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan]

ETIKA DI MASJID

Berdo`a di saat pergi ke masjid. Berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu beliau menyebutkan: Adalah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam apabila ia keluar (rumah) pergi shalat (di masjid) berdo`a :

"Ya Allah, jadikanlah cahaya di dalam hatiku, dan cahaya pada lisanku, dan jadikanlah cahaya pada pendengaranku dan cahaya pada penglihatanku, dan jadikanlah cahaya dari belakangku, dan cahaya dari depanku, dan jadikanlah cahaya dari atasku dan cahaya dari bawahku. Ya Allah, anugerahilah aku cahaya". (Muttafaq'alaih).

Berjalan menuju masjid untuk shalat dengan tenang dan khidmat. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda: "Apabila shalat telah diiqamatkan, maka janganlah kamu datang menujunya dengan berlari, tetapi datanglah kepadanya dengan berjalan dan memperhatikan ketenangan. Maka apa (bagian shalat) yang kamu dapati ikutilah dan yang tertinggal sempurnakanlah. (Muttafaq'alaih).

Berdo`a disaat masuk dan keluar masjid. Disunatkan bagi orang yang masuk masjid mendahulukan kaki kanan, kemudian bershalawat kepada Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam lalu mengucapkan:

"(Ya Allah, bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu)"

Dan bila keluar mendahulukan kaki kiri, lalu bershalawat kepada Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam kemudian membaca do`a:

"(Ya Allah, sesungguhnya aku memohon bagian dari karunia-Mu)". (HR. Muslim).

Disunnatkan melakukan shalat sunnah tahiyatul masjid bila telah masuk masjid. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: "Apabila seorang di antara kamu masuk masjid hendaklah shalat dua raka`at sebelum duduk". (Muttafaq alaih).

Dilarang berjual-beli dan mengumumkan barang hilang di dalam masjid. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: "Apabila kamu melihat orang yang menjual atau membeli sesuatu di dalam masjid, maka doakanlah "Semoga Allah tidak memberi keuntungan bagimu". Dan apabila kamu melihat orang yang mengumumkan barang hilang, maka do`akanlah "Semoga Allah tidak mengembalikan barangmu yang hilang". (HR. At-Turmudzi dan dishahihkan oleh Al-Albani).

Dilarang masuk ke masjid bagi orang makan bawang putih, bawang merah atau orang yang badannya berbau tidak sedap. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa yang memakan bawang putih, bawang merah atau bawang daun, maka jangan sekali-kali mendekat ke masjid kami ini, karena malaikat merasa terganggu dari apa yang dengan-nya manusia terganggu". (HR. Muslim). Dan termasuk juga rokok dan bau lain yang tidak sedap yang keluar dari badan atau pakaian.

Dilarang keluar dari masjid sesudah adzan. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: "Apabila tukang adzan telah adzan, maka jangan ada seorangpun yang keluar sebelum shalat". (HR. Al-Baihaqi dan dishahihkan oleh Al-Albani).

Tidak lewat di depan orang yang sedang shalat, dan disunnatkan bagi orang yang sholat menaroh batas di depannya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: "Kalau sekiranya orang yang lewat di depan orang yang sedang sholat itu mengetahui dosa perbuatannya, niscaya ia berdiri dari jarak empat puluh itu lebih baik baginya daripada lewat di depannya". (Muttafaq alaih).

Tidak menjadikan masjid sebagai jalan. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: "Janganlah kamu menjadikan masjid sebagai jalan, kecuali (sebagai tempat) untuk berzikir dan shalat". (HR. Ath-Thabrani, dinilai hasan oleh Al-Albani).

Tidak menyaringkan suara di dalam masjid dan tidak mengganggu orang-orang yang sedang shalat. Termasuk perbuatan mengganggu orang shalat adalah membiarkan Handphone anda dalam keadaan aktif di saat shalat.

Hendaknya wanita tidak memakai farfum atau berhias bila akan pergi ke masjid. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: "Apabila salah seorang di antara kamu (kaum wanita) ingin shalat di masjid, maka janganlah menyentuh farfum". (HR. Muslim).

Orang yang junub, wanita haid atau nifas tidak boleh masuk masjid. Allah berfirman: "(Dan jangan pula menghampiri masjid), sedang kamu dalam keadaan junub, kecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi". (an-Nisa: 43).

`Aisyah Radhiallaahu anha meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda kepadanya: "Ambilkan buat saya kain alas dari masjid". Aisyah menjawab: Sesungguhnya aku haid? Nabi bersabda: "Sesungguhnya haidmu bukan di tanganmu". (HR. Muslim).

[Taken From Kitab "Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari" By : Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan]

Sabtu, 24 Oktober 2009

ETIKA BERCANDA

Hendaknya percandaan tidak mengandung nama Allah, ayat-ayat-Nya, Sunnah rasul-Nya atau syi`ar-syi`ar Islam. Karena Allah telah berfirman tentang orang-orang yang memperolok-olokan shahabat Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam , yang ahli baca al-Qur`an yang artimya:

"Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan), tentulah mereka menjawab: "Sesungguh-nya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja". Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?". Tidak usah kamu minta ma`af, karena kamu kafir sesudah beriman". (At-Taubah: 65-66).

Hendaknya percandaan itu adalah benar tidak mengandung dusta. Dan hendaknya pecanda tidak mengada-ada cerita-cerita khayalan supaya orang lain tertawa. Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Celakalah bagi orang yang berbicara lalu berdusta supaya dengannya orang banyak jadi tertawa. Celakalah baginya dan celakalah". (HR. Ahmad dan dinilai hasan oleh Al-Albani).

Hendaknya percandaan tidak mengandung unsur menyakiti perasaan salah seorang di antara manusia. Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Janganlah seorang di antara kamu mengambil barang temannya apakah itu hanya canda atau sungguh-sungguh; dan jika ia telah mengambil tongkat temannya, maka ia harus mengembalikannya kepadanya". (HR. Ahmad dan Abu Daud; dinilai hasan oleh Al-Albani).

Bercanda tidak boleh dilakukan terhadap orang yang lebih tua darimu, atau terhadap orang yang tidak bisa bercanda atau tidak dapat menerimanya, atau terhadap perempuan yang bukan mahrammu.

Hendaknya anda tidak memperbanyak canda hingga menjadi tabiatmu, dan jatuhlah wibawamu dan akibatnya kamu mudah dipermainkan oleh orang lain.



[Taken From Kitab "Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari" By : Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan]

ETIKA BERBEDA PENDAPAT

Ikhlas dan mencari yang haq serta melepaskan diri dari nafsu di saat berbeda pendapat. Juga menghindari sikap show (ingin tampil) dan membela diri dan nafsu.
Mengembalikan perkara yang diperselisihkan kepada Kitab Al-Qur'an dan Sunnah. Karena Allah Subhaanahu wa Ta'ala telah berfirman yang artinya:
"Dan jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah (Kitab) dan Rasul". (An-Nisa: 59).
Berbaik sangka kepada orang yang berbeda pendapat denganmu dan tidak menuduh buruk niatnya, mencela dan menganggapnya cacat.
Sebisa mungkin berusaha untuk tidak memperuncing perselisihan, yaitu dengan cara menafsirkan pendapat yang keluar dari lawan atau yang dinisbatkan kepadanya dengan tafsiran yang baik.
Berusaha sebisa mungkin untuk tidak mudah menyalahkan orang lain, kecuali sesudah penelitian yang dalam dan difikirkan secara matang.
Berlapang dada di dalam menerima kritikan yang ditujukan kepada anda atau catatan-catatang yang dialamatkan kepada anda.
Sedapat mungkin menghindari permasalahan-permasalahan khilafiyah dan fitnah.
Berpegang teguh dengan etika berdialog dan menghindari perdebatan, bantah-membantah dan kasar menghadapi lawan.
[Taken From Kitab "Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari" By : Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan]

ETIKA BERBICARA

Hendaknya pembicaran selalu di dalam kebaikan. Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman yang artinya:
"Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali bisik-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma`ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia". (An-Nisa: 114).
hendaknya pembicaran dengan suara yang dapat dide-ngar, tidak terlalu keras dan tidak pula terlalu rendah, ungkapannya jelas dapat difahami oleh semua orang dan tidak dibuat-buat atau dipaksa-paksakan.
Jangan membicarakan sesuatu yang tidak berguna bagimu. Hadits Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam menyatakan: "Termasuk kebaikan islamnya seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna". (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).
Janganlah kamu membicarakan semua apa yang kamu dengar. Abu Hurairah Radhiallaahu 'anhu di dalam hadisnya menuturkan : Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam telah bersabda: "Cukuplah menjadi suatu dosa bagi seseorang yaitu apabila ia membicarakan semua apa yang telah ia dengar".(HR. Muslim)
Menghindari perdebatan dan saling membantah, sekali-pun kamu berada di fihak yang benar dan menjauhi perkataan dusta sekalipun bercanda. Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Aku adalah penjamin sebuah istana di taman surga bagi siapa saja yang menghindari bertikaian (perdebatan) sekalipun ia benar; dan (penjamin) istana di tengah-tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan dusta sekalipun bercanda". (HR. Abu Daud dan dinilai hasan oleh Al-Albani).
Tenang dalam berbicara dan tidak tergesa-gesa. Aisyah Radhiallaahu 'anha. telah menuturkan: "Sesungguhnya Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam apabila membicarakan suatu pembicaraan, sekiranya ada orang yang menghitungnya, niscaya ia dapat menghitungnya". (Mutta-faq'alaih).
Menghindari perkataan jorok (keji). Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Seorang mu'min itu pencela atau pengutuk atau keji pembicaraannya". (HR. Al-Bukhari di dalam Al-Adab Mufrad, dan dishahihkan oleh Al-Albani).
Menghindari sikap memaksakan diri dan banyak bicara di dalam berbicara. Di dalam hadits Jabir Radhiallaahu 'anhu disebutkan: "Dan sesungguhnya manusia yang paling aku benci dan yang paling jauh dariku di hari Kiamat kelak adalah orang yang banyak bicara, orang yang berpura-pura fasih dan orang-orang yang mutafaihiqun". Para shahabat bertanya: Wahai Rasulllah, apa arti mutafaihiqun? Nabi menjawab: "Orang-orang yang sombong". (HR. At-Turmudzi, dinilai hasan oleh Al-Albani).
Menghindari perbuatan menggunjing (ghibah) dan mengadu domba. Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman yang artinya: "Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain".(Al-Hujurat: 12).
Mendengarkan pembicaraan orang lain dengan baik dan tidak memotongnya, juga tidak menampakkan bahwa kamu mengetahui apa yang dibicarakannya, tidak menganggap rendah pendapatnya atau mendustakannya.
Jangan memonopoli dalam berbicara, tetapi berikanlah kesempatan kepada orang lain untuk berbicara.
Menghindari perkataan kasar, keras dan ucapan yang menyakitkan perasaan dan tidak mencari-cari kesalahan pembicaraan orang lain dan kekeliruannya, karena hal tersebut dapat mengundang kebencian, permusuhan dan pertentangan.
Menghindari sikap mengejek, memperolok-olok dan memandang rendah orang yang berbicara. Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman yang artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokan), dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokan). (Al-Hujurat: 11).

[Taken From Kitab "Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari" By : Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan]

Etika Tidur dan Bangun

Berintrospeksi diri (muhasabah) sesaat sebelum tidur. Sangat dianjurkan sekali bagi setiap muslim bermuhasabah (berintrospeksi diri) sesaat sebelum tidur, mengevaluasi segala perbuatan yang telah ia lakukan di siang hari. Lalu jika ia dapatkan perbuatannya baik maka hendaknya memuji kepada Allah Subhanahu wata'ala dan jika sebaliknya maka hendaknya segera memohon ampunan-Nya, kembali dan bertobat kepada-Nya.

Tidur dini, berdasarkan hadits yang bersumber dari `Aisyah Radhiallahu'anha "Bahwasanya Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam tidur pada awal malam dan bangun pada pengujung malam, lalu beliau melakukan shalat".(Muttafaq `alaih)

Disunnatkan berwudhu' sebelum tidur, dan berbaring miring sebelah kanan. Al-Bara' bin `Azib Radhiallahu'anhu menuturkan : Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam bersabda: "Apabila kamu akan tidur, maka berwudlu'lah sebagaimana wudlu' untuk shalat, kemudian berbaringlah dengan miring ke sebelah kanan..." Dan tidak mengapa berbalik kesebelah kiri nantinya.

Disunnatkan pula mengibaskan sperei tiga kali sebelum berbaring, berdasarkan hadits Abu Hurairah Radhiallahu'anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam bersabda: "Apabila seorang dari kamu akan tidur pada tempat tidurnya, maka hendaklah mengirapkan kainnya pada tempat tidurnya itu terlebih dahulu, karena ia tidak tahu apa yang ada di atasnya..." Di dalam satu riwayat dikatakan: "tiga kali". (Muttafaq `alaih).

Makruh tidur tengkurap. Abu Dzar Radhiallahu'anhu menuturkan :"Nabi Shallallahu'alaihi wasallam pernah lewat melintasi aku, dikala itu aku sedang berbaring tengkurap. Maka Nabi Shallallahu'alaihi wasallam membangunkanku dengan kakinya sambil bersabda :"Wahai Junaidab (panggilan Abu Dzar), sesungguhnya berbaring seperti ini (tengkurap) adalah cara berbaringnya penghuni neraka". (H.R. Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh Al-Albani).

Makruh tidur di atas dak terbuka, karena di dalam hadits yang bersumber dari `Ali bin Syaiban disebutkan bahwasanya Nabi Shallallahu'alaihi wasallam telah bersabda: "Barangsiapa yang tidur malam di atas atap rumah yang tidak ada penutupnya, maka hilanglah jaminan darinya". (HR. Al-Bukhari di dalam al-Adab al-Mufrad, dan dinilai shahih oleh Al-Albani).

Menutup pintu, jendela dan memadamkan api dan lampu sebelum tidur. Dari Jabir ra diriwayatkan bahwa sesungguhnya Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam telah bersabda: "Padamkanlah lampu di malam hari apa bila kamu akan tidur, tutuplah pintu, tutuplah rapat-rapat bejana-bejana dan tutuplah makanan dan minuman". (Muttafaq'alaih).

Membaca ayat Kursi, dua ayat terakhir dari Surah Al-Baqarah, Surah Al-Ikhlas dan Al-Mu`awwidzatain (Al-Falaq dan An-Nas), karena banyak hadits-hadits shahih yang menganjurkan hal tersebut.

Membaca do`a-do`a dan dzikir yang keterangannya shahih dari Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam, seperti : Allaahumma qinii yauma tab'atsu 'ibaadaka

"Ya Allah, peliharalah aku dari adzab-Mu pada hari Engkau membangkitkan kembali segenap hamba-hamba-Mu". Dibaca tiga kali.(HR. Abu Dawud dan di hasankan oleh Al Albani)

Dan membaca: Bismika Allahumma Amuutu Wa ahya

" Dengan menyebut nama-Mu ya Allah, aku mati dan aku hidup." (HR. Al Bukhari)

Apabila di saat tidur merasa kaget atau gelisah atau merasa ketakutan, maka disunnatkan (dianjurkan) berdo`a dengan do`a berikut ini :

" A'uudzu bikalimaatillaahit taammati min ghadhabihi Wa syarri 'ibaadihi, wa min hamazaatisy syayaathiini wa an yahdhuruuna."

Aku berlindung dengan Kalimatullah yang sempurna dari murka-Nya, kejahatan hamba-hamba-Nya, dari gangguan syetan dan kehadiran mereka kepadaku". (HR. Abu Dawud dan dihasankan oleh Al Albani)

Hendaknya apabila bangun tidur membaca :

"Alhamdu Lillahilladzii Ahyaanaa ba'da maa Amaatanaa wa ilaihinnusyuuru"

"Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah kami dimatikan-Nya, dan kepada-Nya lah kami dikembalikan." (HR. Al-Bukhari)

[Taken From Kitab "Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari" By : Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan]

KEMULIAAN DALAM BINGKAI THÀ'IFAH MANSHÙRAH (Sosok Sejati Jiwa-jiwa Pejuang)

Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam pernah bersabda tentang satu thā’ifah (kelompok) yang senantiasa berpegang pada kebenaran, sehingga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menganugerahkan kemenangan dan ke-daulatan kepadanya.

Hadits-hadits yang menjelaskan tentang thā’ifah tersebut diriwayatkan oleh lebih dari 10 orang shahabat, di antaranya: Mughīrah bin Syu`bah, Mu`ā-wiyah bin Abī Sufyān, TSalallahu Alaihi Wasalambān, Jābir bin Sāmurah, Jā’bir bin Abdillah, Sa`ad bin Abī Waqqāsh, `Uqbah bin `Āmir, `Abdullah bin `Amr bin `Ash, Zayd bin Arqam, `Imrān bin Hushayn, Qurrah bin Iyās, Abū Hurayrah, `Umar bin al-Khaththāb, Salāmah bin Nufayl al-Kindiy, Nuwas bin Sam`ān, Abu Umāmah al-Bahiliy, Murrah bin Ka`ab al-Bahziy, Syurahbil bin Samth al-Kindiy dan Mu`ādz bin Jabal.

Untuk itu, sebagian besar ulama menilai hadits ini sebagai hadits mutawatir, di antara mereka ada Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah rhm dalam kitab Iqtidhā’ ash-Shirāth al-Mustaqīm: 1/69, as-Suyūthiy rhm dalam kitab Qathf al-Azhār al-Mutanātsirah: No. 81, az-Zubaydiy rhm dalam kitab Luqath al-Ālā’i al-Mutanātsirah fī al-Ahādits al-Mutawātirah: 68, al-Kattāniy rhm dalam kitab Nadzm al-Mutanātsir fī al-Hadīts al-Mutawātir: 93, dan ulama lainnya.

Hadits tersebut adalah:

وَعَنْ مُعَاوِيَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (( لاَ يَزَالُ مِنْ أُمَّتِي أُمَّةٌ قَائِمَةٌ بِأَمْرِ اللهِ، مَا يَضُرُّهُمْ مَنْ كَذَّبَهُمْ وَلاَ مَنْ خَالَفَهُمْ، حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ عَلَى ذَلِكَ ))

Mu`āwiyah rda berkata bahwa dia mendengar Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam bersabda:

“Senantiasa ada di antara ummatku satu kelompok yang menegakkan perintah Allah. Di mana orang-orang yang mendustakan dan menentang mereka tak dapat membawa celaka mereka, sampai Allah mendatangkan urusan-Nya (yaitu hari kiamat) dan mereka tetap dalam keadaan demikian”

(HR. al-Bukhāriy : 7311, Muslim: 171, ad-Dārimiy : 3437, Abū `Awānah dalam ash-Shahīh al-Musnad: 5/109, Ahmad dalam al-Musnad: 4/244, ath-Thabrāniy dalam al-Kabīr: 959, 960 & 962, al-Lālikā’iy: 167, Abū Nu`aym dalam Tarjamah Waqī` bin Jarrāh: 437)

Saudaraku kaum muslimin!

· Sesungguhnya hadits yang mulia ini se-lain memberikan khabar gembira yang sangat besar, juga memberikan amanah tanggung jawab yang tidak kalah pula besarnya.

Hadits ini selain menggambarkan tentang sifat thā’ifah manshūrah (golongan yang men-dapatkan pertolongan) bahwa mereka tidak akan mendapatkan mudharrat dari para penentang atau pendustanya (yang menjadi tanda sebuah khabar gembira), juga menggambarkan ten-tang sifat pemegang kebenaran (yang menjadi tanda sebuah amanah tanggung jawab yang mereka emban).

Sifat memegang kebenaran yang diberikan Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam kepada kelompok ini tidak mungkin ada pada manhaj apapun kecuali dengan manhaj yang murni dari segala hal yang membatalkan kebenaran tersebut.

Hal ini menunjukkan bahwa kelompok ini adalah kelompok yang dikhabarkan Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam sebagai firqah nājiyah (golongan yang selamat). Alangkah beruntungnya…alangkah mulia-nya…dan alangkah bahagianya…kelompok yang diberikan kemenangan di dunia dan diberikan keselamatan di akhirat.

Mereka adalah orang-orang yang disabdakan oleh Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam sebagai pemegang manhaj “al-Jamā`ah” atau “Mā Ana `Alayhi wa Ashhābī”, yang menurut beliau harus memiliki sifat:

(( عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ ))

“Wajib bagi kalian untuk berpegang kepada sunnahku dan sunnah al-Khulafa ar-Rasyidin (para shahabat) yang mendapat hidayah dan petunjuk. Oleh karena itu, berpegang teguhlah kalian dengannya dan gigitlah dengan gigi geraham kalian” (HR. Ahmad: 28/367 Abū Dāwud: 4607, at-Tirmidziy: 2676, dia ber-kata: hasan shahih, dan Ibnu Mājah: 43)

Mereka adalah orang-orang yang senantiasa memperhatikan dan mempertahankan kemurnian agama yang dibawa oleh Rasul-Allah Salallahu Alaihi Wasalam. Mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh dengan aqidah yang bersih (bebas) dari berbagai bentuk kesyirikan, ke-kufuran, khurafat dan bid`ah. Mereka adalah orang yang menjaga dan memelihara hadits-hadits Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam, baik secara riwayat (alur periwayatan) maupun dirayat (pema-haman).

Mereka adalah orang-orang yang memahami sunnah-sunnah Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam berdasarkan pemahaman dan penerapan sebagaimana yang telah dipraktekkan para salafus shalih, terutama para shahabat. Me-reka adalah orang-orang yang penuh perhatian dengan sunnah-sunnah Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam, walaupun hanya bersifat anjuran. Hingga tidaklah mengherankan apabila mereka ada-lah orang-orang yang akan mengamalkan, menegakkan, memperjuangkan dan mem-pertahankan semua hal tersebut, baik dengan jiwa, raga, harta dan bahkan dengan seluruh kehidupan mereka.

· Thā’ifah manshūrah berarti kelompok yang diberikan nashr (kemenangan) oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sehingga mereka akan berhasil mengalahkan musuh-musuh-Nya.

Dalam hadits riwayat at-Tirmidziy (Tuhfah al-Ahwadziy: 2287), kelompok ini disifati dengan lafadz manshūrah (diberikan kemenangan), yaitu:

(( لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي مَنْصُوْرِيْنَ ))

“Senantiasa ada sekelompok dari ummatku yang manshurin (diberikan kemenangan)...”

Dalam syarahnya, Imam Muhammad al-Mubārokfūriy mengartikan manshūrīn dengan:

( غَالِبِيْنَ عَلَى أَعْدَاءِ الدِّيْنِ )

“Berkuasa (mengalahkan) atas musuh-musuh agama” (Tuhfah al-Ahwadziy: 6/360)

Kemenangan yang diberikan kepada me-reka, adakalanya berupa kemenangan atau hujjah dan dalil, atau bisa pula berupa keme-nangan kekuasaan dan kedaulatan di sebuah wilayah.

· Di dalam hadits tersebut di atas dengan berbagai jalur periwayatannya, kita dapat mengetahui karakteristik kelompok yang diberikan anugrah manshūrah (kemenangan). Di antara karakteristik-karakteristik ter-sebut adalah:

1. Berpegang teguh kepada al-haqq (kebenaran Islam).

Ciri ini menggambarkan bahwa mereka adalah orang-orang yang konsekwen dengan syari`at Allah Subhanahu Wa Ta’ala, al-Kitab dan as-Sunnah. Mereka berpegang teguh dengan agama yang shahih (benar) berdasarkan dalil-dalilnya. Mereka adalah Ahlus Sunnah, bukan ahlil bid`ah.

Mereka bukanlah ahlul bid`ah, baik dari generasi zaman dahulu seperti seperti kaum Mu`tazilah, Syi`ah Rafidhah, Qodariyyah, Jahmiyyah, Khawarij, Murji`ah dan lain-lainnya, ataupun ahlul bid`ah yang modern seperti kaum Nasionalis, Ba`tsi, Islam kiri, Post Modernisme, Sekuler, Liberal dan lainnya.

Demikianlah sifat yang mereka miliki, sebagaimana Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam bersabda:

(( عَلَى الدِّيْنِ ظَاهِرِيْنَ ))

“…di atas agama mereka menang (berkuasa)…” (HR. ‘Abdullah bin Ahmad da-lam al-Musnad: 22320 dan ath-Thabrāniy dalam al-Kabīr: 736)

2. Menegakkan perin-tah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Mereka adalah orang-orang yang iltizām (komitmen) dengan syari`at, istiqamah di atasnya dan teguh dalam memegangnya. Mereka adalah orang-orang yang berdakwah dan mengemban amanah beramar ma`ruf nahi munkar. Inilah yang dimaksud dengan mene-gakkan perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebagaimana firman-Nya:

“…Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya…” [QS. asy-Syū-rā’ (42): 13]

3. Berperang demi (di atas) kebenaran.

Mereka bukan orang-orang yang hanya bersikap idealis semata, yang hanya menyerukan, memerintahkan ataupun hanya melarang saja, tetapi mereka juga ikut berperang (pada marhalah yang benar atau waktu yang tepat) di jalan tersebut, yaitu untuk menegakkan dan mempertahankan kebenaran dalam kehidupan.

Sifat ini sangat banyak dijelaskan dalam hadits, di antaranya:

(( يُقَاتِلُوْنَ عَلَى أَمْرِ اللهِ ))

“Mereka berperang di atas perintah Allah” (HR. Muslim: 1924)

(( يُقَاتِلُوْنَ عَلَى أَمْرِ الْحَقِّ ))

“Mereka berperang di atas kebenaran” (HR. Muslim: 1923 dan Ahmad: 15127)

Thā’ifah manshūrah tidak akan dapat meraih sifat sebagiamana yang disebutkan di atas kecuali apabila mereka pun sanggup meraih sebabnya, yaitu dengan kekuatan dan kecukupan (kelayakan) dalam melaksanakan perang syar`i yang dapat mewujudkan tujuan jihad yang hakiki.

4. Berkuasa terhadap musuh-musuh agama, baik secara ilmiyyah maupun amaliyyah.

Sebagaimana yang telah disebutkan dalam riwayat yang terdahulu, bahwa mereka memiliki sifat:

(( عَلَى الدِّيْنِ ظَاهِرِيْنَ ))

“…di atas agama mereka menang (berkuasa)…”

Yang dimaksud dengan zhuhūr (menang) dalam hadits ini memiliki 3 kemungkinan makna, yaitu:

ـ Keberadaan mereka sangat nampak di kalangan manusia dan sangat dikenal, dengan manhaj dan jihad mereka.

ـ Hujjah atau dalil mereka sangat jelas dan gamblang bagi orang lain. Kebenaran selalu berpihak kepada mereka, hingga dengan penuh keteguhan mereka akan memegang dan mempertahankannya dari setiap kebathilan.

ـ Mereka menguasai kedaulatan wilayah, ketinggian kedudukan dan kekuasaan dengan kebenaran tersebut.

Makna yang ketiga merupakan buah atau hasil dari dua makna sebelumnya, yang ditegakkan terlebih dahulu. Dalam perjalanan sejarahnya, thā’ifah manshūrah berada dalam ketiga kondisi dan fase tersebut secara bergantian. Tidak akan mungkin terjadi kekosongan masa dari keberadaan mereka dan segala perjuangannya, karena keberadaan mereka dijamin keberlangsungannya hingga hari kiamat, sebagai wujud dari janji Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam men-jaga agama-Nya.

5. Tabah dan penuh kesabaran serta selalu siap siaga, tanpa pernah lengah.

Dalam perjalanannya, thā’ifah manshūrah akan mengahadapi berbagai rintangan dan tantangan. Namun semua itu sama sekali ti-dak membuat mereka patah arang atau mundur selangkah sedikitpun juga. Inilah makna yang terkandung dalam ungkapan.

“Di mana orang-orang yang mendustakan dan menentang mereka tidak akan dapat mencelakakan mereka sedikitpun”.

Mereka pun sangat memahami perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetap-lah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung” [QS. Āli ‘Imrān (3): 200]

Mereka sangat yakin sekali bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan menurunkan nashr (kemenangan)-Nya hanya dengan mu`jizat, akan tetapi kemenangan tersebut berlaku sesuai sunnatullah yang telah ditetapkan-Nya dalam kehidupan. Dengan yakin mereka mengimani bahwa:

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan ma-suk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang ter-dahulu sebelum kamu Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncang-kan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang ber-iman bersamanya: “Bilakah datangnya perto-longan Allah”. Ingatlah, sesungguhnya per-tolongan Allah itu amat dekat” [QS. al-Ba-qarah (2): 214]

Oleh karena itu, maka sangat pantaslah apabila nama mereka terukir dengan tinta emas dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, di mana Dia berfirman:

“Dan berapa banyak nabi yang berperang ber-sama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada doa mereka selain ucapan: “Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-berlebihan dalam urusan kami, dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. Karena itu Allah memberikan pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan. ” [QS. Āli ‘Im-rān (3): 146-148]

Dari penjelasan-penjelasan tersebut di atas, maka sangat jelas sekali dan bahkan tidak diragukan lagi, bahwa semua itu tidak akan terwujud hanya dengan menyampaikan nasehat, memperindah khutbah atau pengajian-pengajian rutin (meskipun semua sangat penting), akan tetapi semuanya harus dengan qudwah shālihah (sosok terhormat yang menjadi teladan), sosok yang kuat berpegang teguh kepada agama Allah Subhanahu Wa Ta’ala, merasakan manisnya iman dan meyakini kebenaran semua janji Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang difirmankan-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” [QS. Muhammad (47): 7]

6. Wujud atau keberadaan mereka akan terus ada dan senantiasa eksis.

Mereka mulai eksis sejak munculnya agama Islam yang kekal abadi, bahkan jauh sebelum mereka, Bani Israel sendiri adalah ummat yang termasuk dalam kelompok pilihan ini, sebe-lum mereka ditimpa laknat dan kemurkaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebagaimana firman-Nya:

“Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu ummat yang memberi petunjuk (kepada ma-nusia) dengan hak dan dengan hak itulah me-reka menjalankan keadilan” ([QS. 7: 159])

Demikian pula dengan hawāriy (pengikut setia) Nabi Isa as yang telah mewujudkan sifat tha’ifah ini.

“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putera Maryam telah berkata kepada pe-ngikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?”. Pengikut-pengi-kut yang setia itu berkata: “Kamilah penolong penolong agama Allah!”, lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang” [QS. ash-Shaff (61): 14]

Saudaraku kaum muslimin!

Kita semua pasti menjalani rentangan kehidupan ini antara lahir dan mati, tanpa bisa menolaknya. Pertanyaan yang tersisa adalah tinggal bagaimana kita akan menjalani kema-tian, mati mulia atau terhina. Hanya dengan manhaj keselamatan, kemenangan dan kemuliaanlah kita akan menjadi orang-orang yang mulia dan berharga di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Hanya dengan berpegang teguh dan memperjuangkan tegaknya manhaj Ahlus Sunnahlah kita pasti akan selamat, menang dan mulia.

Banyak di antara kita yang hanya mencari kemenangan, mengejar daulah ataupun khilafah, tetapi melupakan manhaj keselamatan, bahkan tidak mau sama sekali berpegang teguh dengannya. Bahkan yang lebih tragis, mereka lari meninggalkan atau malahan memerangi manhaj Ahlus Sunnah. Ada pula di an-tara kita yang mencari kemenangan, mengejar daulah, tetapi dengan manhaj campur sari, manhaj gado-gado, seakan-akan agama hanyalah `āthifah insāniyyah (perasaan kemanusiaan) atau mashlahat dakwah yang dibuat-buat, tanpa menganggap penting kemurniaan agama ini.

Dan ada pula di antara kita yang mencoba meretas jalan keselamatan, mengikuti manhaj Ahlus Sunnah, tetapi sama sekali tidak mau meretas jalan manhaj kemenangan, jalan penegakan kedaulatan, seakan hanya dengan pengajian seminggu sekali semuanya dapat diraih dan dicapai (tanpa sedikitpun kita menolak urgennya masalah tersebut, tetapi bukan hanya itu).

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan bashīrah yang nyata kepada kita semua, Amin.

(www.hasmi.org)

Ar raid / Bekal Dakwah

Senin, 03 Agustus 2009 04:54

يـُثْقِلُـوْنَ اْلأَرْضَ مِنْ كَثْرَتِهِـمْ ثُـمَّ لاَ يُغْنُـْونَ فِي أَمْرٍ جُلَـلِ

"Jumlah mereka hanyalah memberatkan bumi Namun tidak mampu memperjuangkan sesuatu yang mulia"

Dalam ungkapan lain dikumandangkan:

وَ بَعْضُ الرِّجَالِ نَخْلَةٌ لاَ جَنَى لَهَا

وَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ أَنْ تُعَدَّ مِنَ النَّخْـلِ

Banyak orang bagaikan sebongkah pohon yang tiada berbuah Tiada memiliki ranting, meskipun masih dianggap sebagai sebatang pohon

Berbagai peristiwa di dunia Islam terjadi silih-berganti, suhu politik terus-menerus mengalami gejolak perubahan, dan peta pertempuran antara Islam dan kekufuranpun terus berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, namun yang pasti adalah bahwa hal-ihwal kaum muslimin hanyalah bagaikan anak-anak yatim yang berada di atas onggokan sampah.

Shahwah Islāmiyyah (kebangkitan Islam) pada masa modern pun mendapatkan warisan kronis berupa penyimpangan dan kemunduran ummat secara menyeluruh, sebagai akibat dari ketidak berdayaan dan kelemahan yang dialami masa-masa sebelumnya secara berkepanjangan. Hingga ummat ini tidak akan sanggup untuk bangkit dari ketidak berdayaan dan kelemahannya hanya dengan usaha individu-individu yang bersifat terbatas, sebesar apapun kemampuan dan kesanggupan yang dikerahkan.

Sebaliknya, upaya tersebut membutuhkan seluruh kemampuan serta upaya yang saling melengkapi dan saling mendukung. Jika demikian keadaannya, maka amal Islami –dengan karunia Allah Subhanahu Wa Ta'ala– akan dapat berjalan dengan penuh kepercayaan diri dan ketenteraman. Dan meskipun perjalanannya terasa berat karena banyaknya kerikil dan rintangan.

Namun yang terpenting, tidakkah ada di antara kita yang bertanya kepada dirinya:

“Apakah peran utama yang harus kupersembahkan bagi perjalanan amal Islami ini?”

“Dan apakah yang dapat kupersembahkan untuk berderma kepada agama ini?”

Apakah cukup bagi seseorang untuk hidup hanya sebagai penonton, yang menyaksikan perjalanan shahwah Islāmiyyah hanya dari jauh tanpa ikut serta mengambil perannya, kecuali hanya sekedar bertepuk tangan dan dengan hanya mengelus dada? Ataukah cukup bagi seseorang untuk ikut berperan hanya dengan memperbanyak jumlah dan kwantitas orang-orang shalih?

Ataukah cukup bagi seseorang untuk berperan hanya dengan mengucapkan Lā Hawla wa Lā Quwwata illa Billah dan Innā Lillahi wa Innā Ilayhi Rāji’ūn, tatkala amal Islami atau gerakan dakwah mengalami musibah yang menyedihkan (atau bahkan teramat sangat menyedihkan)?

Tidak diragukan lagi, hal ini merupakan keteledoran yang sangat melalaikan, yang menyebabkan kebanyakan orang tidak mau untuk ikut andil dan memberikan kemampuan atau potensinya (bagi perjuangan dakwah).

Dan –alhamdulillah- sesungguhnya kita memiliki kemampuan yang tiada batas, akan tetapi kemampuan tersebut masih bersifat pasif, beku (statis) dan belum tergali untuk dimanfaatkan secara maksimal dan optimal dalam berkhidmat atau berderma kepada ummat ini. Bahkan kebanyakan kemampuan yang kita miliki masih terbelenggu oleh ber-bagai ketidakberdayaan dan kelemahan.

Sehingga tidaklah mengherankan bagi kita tatkala melihat kebanyakan perilaku orang-orang shalih adalah sebagaimana yang digambarkan dalam sya’ir:

Jumlah mereka hanyalah memberatkan bumi Namun tidak mampu memperjuangkan sesuatu yang mulia Banyak orang bagaikan sebongkah pohon yang tiada berbuah Tiada memiliki ranting, meskipun masih dianggap sebagai sebatang pohon

Sumber daya utama yang harus dimiliki ummat insan-insan atau individu-individu yang perkasa, yang memiliki tanggung jawab dalam mengemban amanah agung, yaitu amanah dakwah dan perjuangan amal Islami dalam pancaran Shahwah Islāmiyyah yang sedang mekar dan merebak di mana-mana.

Yaitu jiwa-jiwa yang selalu siap sedia untuk mempersembahkan dan bahkan untuk mengorbankan kehidupannya dalam mengayomi dan melindungi perjalanan sebuah dakwah.

Itulah gambaran keindahan tipikal insan yang berdaya guna, seseorang yang telah menadzarkan diri dan hidupnya untuk membela Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan senantiasa menyiapkan dirinya untuk berjuang di jalan-Nya, hingga tiada satupun halangan yang sanggup menghadangnya.

Di masa sekarang ini, kita berada dalam suatu masa dimana masing-masing kita dituntut untuk bertanya kepada diri sendiri:

“Apakah yang dapat kupersembahkan?”

“Bagaimana aku sanggup untuk menghasilkan perjuangan melebihi kemampuan yang ada?”

Semua ini tidak mungkin dapat direalisasikan kecuali dengan sebuah tekad kuat dan semangat baja yang dilandasi kejujuran. Hal inilah yang membuat seseorang untuk senantiasa berfikir jauh ke depan, baik dalam mempersembahkan andilnya maupun dalam beramal secara kreatif, hingga dia tidak akan pernah rela untuk beramal dengan sedikit dan minim.

Tidak ada satu halpun yang dapat membinasakan kemauan atau ambisi kuat seseorang kecuali dirinya sendiri, yaitu dengan merendahkan dan membungkus dirinya dengan kelemahan jiwa, hingga melumpuhkan tekadnya, hingga pada akhirnya diapun tidak sanggup lagi untuk bergerak dan beraktifitas.

Yang membuat kemampuan seseorang terasa sia-sia dan tidak bermanfaat adalah karena mengganggap dirinya sebagai orang yang lemah, serta tidak sanggup untuk beraktifitas dan bekerja dengan kreatif. Padahal secara umum, kebanyakan orang tidak sanggup untuk menggali kemampuan dan potensi dirinya, kecuali dengan melalui berbagai pelatihan dan pengalaman yang berulang.

Merupakan hal yang sangat wajar bahwa hasil kerja seseorang adalah sangat tergantung pada kadar kemauan, ambisi dan tekad. Oleh karena itu, seseorang yang memiliki kemauan atau ambisi adalah seseorang yang memiliki tujuan dan cita-cita tinggi, walaupun bisa jadi pada saat tertentu kemampuannya belum sanggup untuk meraihnya.

Namun dia akan berusaha keras untuk meningkatkan kemampuannya, hingga ambisi dan cita-citanya dapat terwujud. Dan apabila kemampuannya telah tumbuh dan tergali, maka dia tidak akan berhenti hanya pada sasaran pertama yang telah diraihnya, bahkan dia akan terus meningkatkan dan menggalinya dengan lebih seksama lagi.

Imam Ibnu al-Qayyim Rahimahullah berkata:

( اَلْعَامَّةُ تَقُوْلُ: قِيْمَةُ كُلِّ امْرِئٍ مَا يُحْسِنُهُ، وَالْخَاصَّةُ تَقُوْلُ: قِيْمَةُ الْمَرْءِ مَا يَطْلُبُهُ، وَخَاصَّةُ الْخَاصَّةِ تَقُوْلُ: هِمَّةُ الْمَرْءِ إِلَى مَطْلُوْبِهِ )

“Orang awam berprinsip: Harga diri seseorang ada pada sesuatu yang dianggapnya indah, orang khusus berprinsip: Harga diri seseorang ada pada apa yang diidealismekannya (diperjuangkan atau dicita-citakannya), sedangkan orang yang sangat khusus berprinsip: Tekad seseorang ada pada yang diidealismekannya” (Madārij as-Sālikīn 3/147)

Hūth bin Riāb al-Asadiy berkata:

وَ مَنْ يَتَهَيَّبْ صُعُوْدَ الْجِبَالِ يَـعِشْ أَبَدَ الدَّهْرِ بَيْنَ الْحُفَرِ

Siapa berhati kerdil tatkala mendaki gunung Maka dia akan hidup dalam kubangan kekerdilan sepanjang hayatnya.

(www.hasmi.org)