Senin, 03 Agustus 2009 04:54
يـُثْقِلُـوْنَ اْلأَرْضَ مِنْ كَثْرَتِهِـمْ ثُـمَّ لاَ يُغْنُـْونَ فِي أَمْرٍ جُلَـلِ
"Jumlah mereka hanyalah memberatkan bumi Namun tidak mampu memperjuangkan sesuatu yang mulia"
Dalam ungkapan lain dikumandangkan:
وَ بَعْضُ الرِّجَالِ نَخْلَةٌ لاَ جَنَى لَهَا
وَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ أَنْ تُعَدَّ مِنَ النَّخْـلِ
Banyak orang bagaikan sebongkah pohon yang tiada berbuah Tiada memiliki ranting, meskipun masih dianggap sebagai sebatang pohon
Berbagai peristiwa di dunia Islam terjadi silih-berganti, suhu politik terus-menerus mengalami gejolak perubahan, dan peta pertempuran antara Islam dan kekufuranpun terus berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, namun yang pasti adalah bahwa hal-ihwal kaum muslimin hanyalah bagaikan anak-anak yatim yang berada di atas onggokan sampah.
Shahwah Islāmiyyah (kebangkitan Islam) pada masa modern pun mendapatkan warisan kronis berupa penyimpangan dan kemunduran ummat secara menyeluruh, sebagai akibat dari ketidak berdayaan dan kelemahan yang dialami masa-masa sebelumnya secara berkepanjangan. Hingga ummat ini tidak akan sanggup untuk bangkit dari ketidak berdayaan dan kelemahannya hanya dengan usaha individu-individu yang bersifat terbatas, sebesar apapun kemampuan dan kesanggupan yang dikerahkan.
Sebaliknya, upaya tersebut membutuhkan seluruh kemampuan serta upaya yang saling melengkapi dan saling mendukung. Jika demikian keadaannya, maka amal Islami –dengan karunia Allah Subhanahu Wa Ta'ala– akan dapat berjalan dengan penuh kepercayaan diri dan ketenteraman. Dan meskipun perjalanannya terasa berat karena banyaknya kerikil dan rintangan.
Namun yang terpenting, tidakkah ada di antara kita yang bertanya kepada dirinya:
“Apakah peran utama yang harus kupersembahkan bagi perjalanan amal Islami ini?”
“Dan apakah yang dapat kupersembahkan untuk berderma kepada agama ini?”
Apakah cukup bagi seseorang untuk hidup hanya sebagai penonton, yang menyaksikan perjalanan shahwah Islāmiyyah hanya dari jauh tanpa ikut serta mengambil perannya, kecuali hanya sekedar bertepuk tangan dan dengan hanya mengelus dada? Ataukah cukup bagi seseorang untuk ikut berperan hanya dengan memperbanyak jumlah dan kwantitas orang-orang shalih?
Ataukah cukup bagi seseorang untuk berperan hanya dengan mengucapkan Lā Hawla wa Lā Quwwata illa Billah dan Innā Lillahi wa Innā Ilayhi Rāji’ūn, tatkala amal Islami atau gerakan dakwah mengalami musibah yang menyedihkan (atau bahkan teramat sangat menyedihkan)?
Tidak diragukan lagi, hal ini merupakan keteledoran yang sangat melalaikan, yang menyebabkan kebanyakan orang tidak mau untuk ikut andil dan memberikan kemampuan atau potensinya (bagi perjuangan dakwah).
Dan –alhamdulillah- sesungguhnya kita memiliki kemampuan yang tiada batas, akan tetapi kemampuan tersebut masih bersifat pasif, beku (statis) dan belum tergali untuk dimanfaatkan secara maksimal dan optimal dalam berkhidmat atau berderma kepada ummat ini. Bahkan kebanyakan kemampuan yang kita miliki masih terbelenggu oleh ber-bagai ketidakberdayaan dan kelemahan.
Sehingga tidaklah mengherankan bagi kita tatkala melihat kebanyakan perilaku orang-orang shalih adalah sebagaimana yang digambarkan dalam sya’ir:
Jumlah mereka hanyalah memberatkan bumi Namun tidak mampu memperjuangkan sesuatu yang mulia Banyak orang bagaikan sebongkah pohon yang tiada berbuah Tiada memiliki ranting, meskipun masih dianggap sebagai sebatang pohon
Sumber daya utama yang harus dimiliki ummat insan-insan atau individu-individu yang perkasa, yang memiliki tanggung jawab dalam mengemban amanah agung, yaitu amanah dakwah dan perjuangan amal Islami dalam pancaran Shahwah Islāmiyyah yang sedang mekar dan merebak di mana-mana.
Yaitu jiwa-jiwa yang selalu siap sedia untuk mempersembahkan dan bahkan untuk mengorbankan kehidupannya dalam mengayomi dan melindungi perjalanan sebuah dakwah.
Itulah gambaran keindahan tipikal insan yang berdaya guna, seseorang yang telah menadzarkan diri dan hidupnya untuk membela Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan senantiasa menyiapkan dirinya untuk berjuang di jalan-Nya, hingga tiada satupun halangan yang sanggup menghadangnya.
Di masa sekarang ini, kita berada dalam suatu masa dimana masing-masing kita dituntut untuk bertanya kepada diri sendiri:
“Apakah yang dapat kupersembahkan?”
“Bagaimana aku sanggup untuk menghasilkan perjuangan melebihi kemampuan yang ada?”
Semua ini tidak mungkin dapat direalisasikan kecuali dengan sebuah tekad kuat dan semangat baja yang dilandasi kejujuran. Hal inilah yang membuat seseorang untuk senantiasa berfikir jauh ke depan, baik dalam mempersembahkan andilnya maupun dalam beramal secara kreatif, hingga dia tidak akan pernah rela untuk beramal dengan sedikit dan minim.
Tidak ada satu halpun yang dapat membinasakan kemauan atau ambisi kuat seseorang kecuali dirinya sendiri, yaitu dengan merendahkan dan membungkus dirinya dengan kelemahan jiwa, hingga melumpuhkan tekadnya, hingga pada akhirnya diapun tidak sanggup lagi untuk bergerak dan beraktifitas.
Yang membuat kemampuan seseorang terasa sia-sia dan tidak bermanfaat adalah karena mengganggap dirinya sebagai orang yang lemah, serta tidak sanggup untuk beraktifitas dan bekerja dengan kreatif. Padahal secara umum, kebanyakan orang tidak sanggup untuk menggali kemampuan dan potensi dirinya, kecuali dengan melalui berbagai pelatihan dan pengalaman yang berulang.
Merupakan hal yang sangat wajar bahwa hasil kerja seseorang adalah sangat tergantung pada kadar kemauan, ambisi dan tekad. Oleh karena itu, seseorang yang memiliki kemauan atau ambisi adalah seseorang yang memiliki tujuan dan cita-cita tinggi, walaupun bisa jadi pada saat tertentu kemampuannya belum sanggup untuk meraihnya.
Namun dia akan berusaha keras untuk meningkatkan kemampuannya, hingga ambisi dan cita-citanya dapat terwujud. Dan apabila kemampuannya telah tumbuh dan tergali, maka dia tidak akan berhenti hanya pada sasaran pertama yang telah diraihnya, bahkan dia akan terus meningkatkan dan menggalinya dengan lebih seksama lagi.
Imam Ibnu al-Qayyim Rahimahullah berkata:
( اَلْعَامَّةُ تَقُوْلُ: قِيْمَةُ كُلِّ امْرِئٍ مَا يُحْسِنُهُ، وَالْخَاصَّةُ تَقُوْلُ: قِيْمَةُ الْمَرْءِ مَا يَطْلُبُهُ، وَخَاصَّةُ الْخَاصَّةِ تَقُوْلُ: هِمَّةُ الْمَرْءِ إِلَى مَطْلُوْبِهِ )
“Orang awam berprinsip: Harga diri seseorang ada pada sesuatu yang dianggapnya indah, orang khusus berprinsip: Harga diri seseorang ada pada apa yang diidealismekannya (diperjuangkan atau dicita-citakannya), sedangkan orang yang sangat khusus berprinsip: Tekad seseorang ada pada yang diidealismekannya” (Madārij as-Sālikīn 3/147)
Hūth bin Riāb al-Asadiy berkata:
وَ مَنْ يَتَهَيَّبْ صُعُوْدَ الْجِبَالِ يَـعِشْ أَبَدَ الدَّهْرِ بَيْنَ الْحُفَرِ
Siapa berhati kerdil tatkala mendaki gunung Maka dia akan hidup dalam kubangan kekerdilan sepanjang hayatnya.
(www.hasmi.org)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar