Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam pernah bersabda tentang satu thā’ifah (kelompok) yang senantiasa berpegang pada kebenaran, sehingga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menganugerahkan kemenangan dan ke-daulatan kepadanya.
Hadits-hadits yang menjelaskan tentang thā’ifah tersebut diriwayatkan oleh lebih dari 10 orang shahabat, di antaranya: Mughīrah bin Syu`bah, Mu`ā-wiyah bin Abī Sufyān, TSalallahu Alaihi Wasalambān, Jābir bin Sāmurah, Jā’bir bin Abdillah, Sa`ad bin Abī Waqqāsh, `Uqbah bin `Āmir, `Abdullah bin `Amr bin `Ash, Zayd bin Arqam, `Imrān bin Hushayn, Qurrah bin Iyās, Abū Hurayrah, `Umar bin al-Khaththāb, Salāmah bin Nufayl al-Kindiy, Nuwas bin Sam`ān, Abu Umāmah al-Bahiliy, Murrah bin Ka`ab al-Bahziy, Syurahbil bin Samth al-Kindiy dan Mu`ādz bin Jabal.
Untuk itu, sebagian besar ulama menilai hadits ini sebagai hadits mutawatir, di antara mereka ada Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah rhm dalam kitab Iqtidhā’ ash-Shirāth al-Mustaqīm: 1/69, as-Suyūthiy rhm dalam kitab Qathf al-Azhār al-Mutanātsirah: No. 81, az-Zubaydiy rhm dalam kitab Luqath al-Ālā’i al-Mutanātsirah fī al-Ahādits al-Mutawātirah: 68, al-Kattāniy rhm dalam kitab Nadzm al-Mutanātsir fī al-Hadīts al-Mutawātir: 93, dan ulama lainnya.
Hadits tersebut adalah:
وَعَنْ مُعَاوِيَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (( لاَ يَزَالُ مِنْ أُمَّتِي أُمَّةٌ قَائِمَةٌ بِأَمْرِ اللهِ، مَا يَضُرُّهُمْ مَنْ كَذَّبَهُمْ وَلاَ مَنْ خَالَفَهُمْ، حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ عَلَى ذَلِكَ ))
Mu`āwiyah rda berkata bahwa dia mendengar Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam bersabda:
“Senantiasa ada di antara ummatku satu kelompok yang menegakkan perintah Allah. Di mana orang-orang yang mendustakan dan menentang mereka tak dapat membawa celaka mereka, sampai Allah mendatangkan urusan-Nya (yaitu hari kiamat) dan mereka tetap dalam keadaan demikian”
(HR. al-Bukhāriy : 7311, Muslim: 171, ad-Dārimiy : 3437, Abū `Awānah dalam ash-Shahīh al-Musnad: 5/109, Ahmad dalam al-Musnad: 4/244, ath-Thabrāniy dalam al-Kabīr: 959, 960 & 962, al-Lālikā’iy: 167, Abū Nu`aym dalam Tarjamah Waqī` bin Jarrāh: 437)
Saudaraku kaum muslimin!
· Sesungguhnya hadits yang mulia ini se-lain memberikan khabar gembira yang sangat besar, juga memberikan amanah tanggung jawab yang tidak kalah pula besarnya.
Hadits ini selain menggambarkan tentang sifat thā’ifah manshūrah (golongan yang men-dapatkan pertolongan) bahwa mereka tidak akan mendapatkan mudharrat dari para penentang atau pendustanya (yang menjadi tanda sebuah khabar gembira), juga menggambarkan ten-tang sifat pemegang kebenaran (yang menjadi tanda sebuah amanah tanggung jawab yang mereka emban).
Sifat memegang kebenaran yang diberikan Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam kepada kelompok ini tidak mungkin ada pada manhaj apapun kecuali dengan manhaj yang murni dari segala hal yang membatalkan kebenaran tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa kelompok ini adalah kelompok yang dikhabarkan Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam sebagai firqah nājiyah (golongan yang selamat). Alangkah beruntungnya…alangkah mulia-nya…dan alangkah bahagianya…kelompok yang diberikan kemenangan di dunia dan diberikan keselamatan di akhirat.
Mereka adalah orang-orang yang disabdakan oleh Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam sebagai pemegang manhaj “al-Jamā`ah” atau “Mā Ana `Alayhi wa Ashhābī”, yang menurut beliau harus memiliki sifat:
(( عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ ))
“Wajib bagi kalian untuk berpegang kepada sunnahku dan sunnah al-Khulafa ar-Rasyidin (para shahabat) yang mendapat hidayah dan petunjuk. Oleh karena itu, berpegang teguhlah kalian dengannya dan gigitlah dengan gigi geraham kalian” (HR. Ahmad: 28/367 Abū Dāwud: 4607, at-Tirmidziy: 2676, dia ber-kata: hasan shahih, dan Ibnu Mājah: 43)
Mereka adalah orang-orang yang senantiasa memperhatikan dan mempertahankan kemurnian agama yang dibawa oleh Rasul-Allah Salallahu Alaihi Wasalam. Mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh dengan aqidah yang bersih (bebas) dari berbagai bentuk kesyirikan, ke-kufuran, khurafat dan bid`ah. Mereka adalah orang yang menjaga dan memelihara hadits-hadits Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam, baik secara riwayat (alur periwayatan) maupun dirayat (pema-haman).
Mereka adalah orang-orang yang memahami sunnah-sunnah Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam berdasarkan pemahaman dan penerapan sebagaimana yang telah dipraktekkan para salafus shalih, terutama para shahabat. Me-reka adalah orang-orang yang penuh perhatian dengan sunnah-sunnah Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam, walaupun hanya bersifat anjuran. Hingga tidaklah mengherankan apabila mereka ada-lah orang-orang yang akan mengamalkan, menegakkan, memperjuangkan dan mem-pertahankan semua hal tersebut, baik dengan jiwa, raga, harta dan bahkan dengan seluruh kehidupan mereka.
· Thā’ifah manshūrah berarti kelompok yang diberikan nashr (kemenangan) oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sehingga mereka akan berhasil mengalahkan musuh-musuh-Nya.
Dalam hadits riwayat at-Tirmidziy (Tuhfah al-Ahwadziy: 2287), kelompok ini disifati dengan lafadz manshūrah (diberikan kemenangan), yaitu:
(( لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي مَنْصُوْرِيْنَ ))
“Senantiasa ada sekelompok dari ummatku yang manshurin (diberikan kemenangan)...”
Dalam syarahnya, Imam Muhammad al-Mubārokfūriy mengartikan manshūrīn dengan:
( غَالِبِيْنَ عَلَى أَعْدَاءِ الدِّيْنِ )
“Berkuasa (mengalahkan) atas musuh-musuh agama” (Tuhfah al-Ahwadziy: 6/360)
Kemenangan yang diberikan kepada me-reka, adakalanya berupa kemenangan atau hujjah dan dalil, atau bisa pula berupa keme-nangan kekuasaan dan kedaulatan di sebuah wilayah.
· Di dalam hadits tersebut di atas dengan berbagai jalur periwayatannya, kita dapat mengetahui karakteristik kelompok yang diberikan anugrah manshūrah (kemenangan). Di antara karakteristik-karakteristik ter-sebut adalah:
1. Berpegang teguh kepada al-haqq (kebenaran Islam).
Ciri ini menggambarkan bahwa mereka adalah orang-orang yang konsekwen dengan syari`at Allah Subhanahu Wa Ta’ala, al-Kitab dan as-Sunnah. Mereka berpegang teguh dengan agama yang shahih (benar) berdasarkan dalil-dalilnya. Mereka adalah Ahlus Sunnah, bukan ahlil bid`ah.
Mereka bukanlah ahlul bid`ah, baik dari generasi zaman dahulu seperti seperti kaum Mu`tazilah, Syi`ah Rafidhah, Qodariyyah, Jahmiyyah, Khawarij, Murji`ah dan lain-lainnya, ataupun ahlul bid`ah yang modern seperti kaum Nasionalis, Ba`tsi, Islam kiri, Post Modernisme, Sekuler, Liberal dan lainnya.
Demikianlah sifat yang mereka miliki, sebagaimana Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam bersabda:
(( عَلَى الدِّيْنِ ظَاهِرِيْنَ ))
“…di atas agama mereka menang (berkuasa)…” (HR. ‘Abdullah bin Ahmad da-lam al-Musnad: 22320 dan ath-Thabrāniy dalam al-Kabīr: 736)
2. Menegakkan perin-tah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Mereka adalah orang-orang yang iltizām (komitmen) dengan syari`at, istiqamah di atasnya dan teguh dalam memegangnya. Mereka adalah orang-orang yang berdakwah dan mengemban amanah beramar ma`ruf nahi munkar. Inilah yang dimaksud dengan mene-gakkan perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebagaimana firman-Nya:
“…Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya…” [QS. asy-Syū-rā’ (42): 13]
3. Berperang demi (di atas) kebenaran.
Mereka bukan orang-orang yang hanya bersikap idealis semata, yang hanya menyerukan, memerintahkan ataupun hanya melarang saja, tetapi mereka juga ikut berperang (pada marhalah yang benar atau waktu yang tepat) di jalan tersebut, yaitu untuk menegakkan dan mempertahankan kebenaran dalam kehidupan.
Sifat ini sangat banyak dijelaskan dalam hadits, di antaranya:
(( يُقَاتِلُوْنَ عَلَى أَمْرِ اللهِ ))
“Mereka berperang di atas perintah Allah” (HR. Muslim: 1924)
(( يُقَاتِلُوْنَ عَلَى أَمْرِ الْحَقِّ ))
“Mereka berperang di atas kebenaran” (HR. Muslim: 1923 dan Ahmad: 15127)
Thā’ifah manshūrah tidak akan dapat meraih sifat sebagiamana yang disebutkan di atas kecuali apabila mereka pun sanggup meraih sebabnya, yaitu dengan kekuatan dan kecukupan (kelayakan) dalam melaksanakan perang syar`i yang dapat mewujudkan tujuan jihad yang hakiki.
4. Berkuasa terhadap musuh-musuh agama, baik secara ilmiyyah maupun amaliyyah.
Sebagaimana yang telah disebutkan dalam riwayat yang terdahulu, bahwa mereka memiliki sifat:
(( عَلَى الدِّيْنِ ظَاهِرِيْنَ ))
“…di atas agama mereka menang (berkuasa)…”
Yang dimaksud dengan zhuhūr (menang) dalam hadits ini memiliki 3 kemungkinan makna, yaitu:
ـ Keberadaan mereka sangat nampak di kalangan manusia dan sangat dikenal, dengan manhaj dan jihad mereka.
ـ Hujjah atau dalil mereka sangat jelas dan gamblang bagi orang lain. Kebenaran selalu berpihak kepada mereka, hingga dengan penuh keteguhan mereka akan memegang dan mempertahankannya dari setiap kebathilan.
ـ Mereka menguasai kedaulatan wilayah, ketinggian kedudukan dan kekuasaan dengan kebenaran tersebut.
Makna yang ketiga merupakan buah atau hasil dari dua makna sebelumnya, yang ditegakkan terlebih dahulu. Dalam perjalanan sejarahnya, thā’ifah manshūrah berada dalam ketiga kondisi dan fase tersebut secara bergantian. Tidak akan mungkin terjadi kekosongan masa dari keberadaan mereka dan segala perjuangannya, karena keberadaan mereka dijamin keberlangsungannya hingga hari kiamat, sebagai wujud dari janji Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam men-jaga agama-Nya.
5. Tabah dan penuh kesabaran serta selalu siap siaga, tanpa pernah lengah.
Dalam perjalanannya, thā’ifah manshūrah akan mengahadapi berbagai rintangan dan tantangan. Namun semua itu sama sekali ti-dak membuat mereka patah arang atau mundur selangkah sedikitpun juga. Inilah makna yang terkandung dalam ungkapan.
“Di mana orang-orang yang mendustakan dan menentang mereka tidak akan dapat mencelakakan mereka sedikitpun”.
Mereka pun sangat memahami perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam firman-Nya:
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetap-lah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung” [QS. Āli ‘Imrān (3): 200]
Mereka sangat yakin sekali bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan menurunkan nashr (kemenangan)-Nya hanya dengan mu`jizat, akan tetapi kemenangan tersebut berlaku sesuai sunnatullah yang telah ditetapkan-Nya dalam kehidupan. Dengan yakin mereka mengimani bahwa:
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan ma-suk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang ter-dahulu sebelum kamu Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncang-kan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang ber-iman bersamanya: “Bilakah datangnya perto-longan Allah”. Ingatlah, sesungguhnya per-tolongan Allah itu amat dekat” [QS. al-Ba-qarah (2): 214]
Oleh karena itu, maka sangat pantaslah apabila nama mereka terukir dengan tinta emas dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, di mana Dia berfirman:
“Dan berapa banyak nabi yang berperang ber-sama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada doa mereka selain ucapan: “Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-berlebihan dalam urusan kami, dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. Karena itu Allah memberikan pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan. ” [QS. Āli ‘Im-rān (3): 146-148]
Dari penjelasan-penjelasan tersebut di atas, maka sangat jelas sekali dan bahkan tidak diragukan lagi, bahwa semua itu tidak akan terwujud hanya dengan menyampaikan nasehat, memperindah khutbah atau pengajian-pengajian rutin (meskipun semua sangat penting), akan tetapi semuanya harus dengan qudwah shālihah (sosok terhormat yang menjadi teladan), sosok yang kuat berpegang teguh kepada agama Allah Subhanahu Wa Ta’ala, merasakan manisnya iman dan meyakini kebenaran semua janji Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang difirmankan-Nya:
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” [QS. Muhammad (47): 7]
6. Wujud atau keberadaan mereka akan terus ada dan senantiasa eksis.
Mereka mulai eksis sejak munculnya agama Islam yang kekal abadi, bahkan jauh sebelum mereka, Bani Israel sendiri adalah ummat yang termasuk dalam kelompok pilihan ini, sebe-lum mereka ditimpa laknat dan kemurkaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebagaimana firman-Nya:
“Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu ummat yang memberi petunjuk (kepada ma-nusia) dengan hak dan dengan hak itulah me-reka menjalankan keadilan” ([QS. 7: 159])
Demikian pula dengan hawāriy (pengikut setia) Nabi Isa as yang telah mewujudkan sifat tha’ifah ini.
“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putera Maryam telah berkata kepada pe-ngikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?”. Pengikut-pengi-kut yang setia itu berkata: “Kamilah penolong penolong agama Allah!”, lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang” [QS. ash-Shaff (61): 14]
Saudaraku kaum muslimin!
Kita semua pasti menjalani rentangan kehidupan ini antara lahir dan mati, tanpa bisa menolaknya. Pertanyaan yang tersisa adalah tinggal bagaimana kita akan menjalani kema-tian, mati mulia atau terhina. Hanya dengan manhaj keselamatan, kemenangan dan kemuliaanlah kita akan menjadi orang-orang yang mulia dan berharga di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Hanya dengan berpegang teguh dan memperjuangkan tegaknya manhaj Ahlus Sunnahlah kita pasti akan selamat, menang dan mulia.
Banyak di antara kita yang hanya mencari kemenangan, mengejar daulah ataupun khilafah, tetapi melupakan manhaj keselamatan, bahkan tidak mau sama sekali berpegang teguh dengannya. Bahkan yang lebih tragis, mereka lari meninggalkan atau malahan memerangi manhaj Ahlus Sunnah. Ada pula di an-tara kita yang mencari kemenangan, mengejar daulah, tetapi dengan manhaj campur sari, manhaj gado-gado, seakan-akan agama hanyalah `āthifah insāniyyah (perasaan kemanusiaan) atau mashlahat dakwah yang dibuat-buat, tanpa menganggap penting kemurniaan agama ini.
Dan ada pula di antara kita yang mencoba meretas jalan keselamatan, mengikuti manhaj Ahlus Sunnah, tetapi sama sekali tidak mau meretas jalan manhaj kemenangan, jalan penegakan kedaulatan, seakan hanya dengan pengajian seminggu sekali semuanya dapat diraih dan dicapai (tanpa sedikitpun kita menolak urgennya masalah tersebut, tetapi bukan hanya itu).
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan bashīrah yang nyata kepada kita semua, Amin.
(www.hasmi.org)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar